Jumat, 09 Februari 2024

Syair dari kata unik Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memeliki kata-kata unik dan menarik yang jarang di gunakan dalam percakapan sehari-hari. Jika di rangkai dengan kata yang umum di gunakan akan sangat menarik untuk di baca. Beberapa contoh rangkaian kata unik Bahasa Indonesia di rangkum menjadi syair yang menarik dan memiliki makna yang mendalam.

Sabtu, 13 Maret 2021

If Conditional

 

Conditional Sentences and IF clauses – Introduction

Conditional sentences consist of two parts:
The if-clause (which is a condition) and the main clause (which is a result)
For example:

  • If it rains, we will cancel the trip.

If it rains …. is the if-clause (the condition)
An if-clause begins with IF and has a subject and a verb.

We will cancel the trip …. is the main clause (the result)

If introduces a condition. This is something that may or may not happen, depending on the circumstances.
We don’t know exactly if it is going to rain so we say… IF it rains,

And what is the result of this condition? We will cancel the trip.

There is always a condition and a result.
The IF-clause introduces a condition. The main clause is the result of that condition.
What happens in the main clause is conditional to what happens in the if-clause. In other words, the main clause only happens when the events in the if-clause happen.

Note: There are two ways of ordering a conditional sentence.

Condition, + Result (with a comma after the condition) …. OR …
Result + Condition (without a comma)

Look at the original sentence

  • If it rains, we will cancel the trip.

Notice how there is a comma after the verb rains which is the last part of the if-clause.
When the if-clause comes first in the sentence, we put a comma (,) after it.

  • If it rains,(COMMA) we will cancel the trip.

BUT, when the main clause comes first in the sentence, the comma (,) is not necessary.

  • We will cancel the trip if it rains.

(Notice how there is no comma in this last sentence)

You can use either order, they are both used and correct.

TYPES OF CONDITIONALS

The four main types of conditionals are:
The Zero Conditional, the First Conditional, the Second Conditional, and the Third Conditional.
Sometimes these are called Type 0Type 1Type 2, and Type 3 Conditionals.

We will quickly introduce them in this lesson and go into more detail about each conditional in individual lessons.

The Zero Conditional

This involves the present simple + present simple
This is used for facts that are generally true or scientific facts.
The condition always has the same result.

  • If you stand in the rain, you get wet. (This is generally true)
  • If you heat ice, it melts. (This is a fact)

The First Conditional

This involves the present simple + will / won’t + verb
This is used to express a possible situation in the future.
We are predicting a likely result in the future if the condition happens.
For example:

  • If it rains, we will cancel the trip.
    (This is the likely result in the future if it rains)
  • If you study, you will pass the exam.
    (Again, I predict that this will happen in the future if you study)

The Second Conditional

This involves the past simple + would + verb
This is used for hypothetical or unlikely situations.
Also for unreal or improbable situations now or in the future.

  • If I won the lottery, I would travel a lot.

(It is unlikely that I will win the lottery. But in this hypothetical, though improbable situation, this is what I would do)

  • If they sold their house, they would be rich.

(It is unlikely that they will sell the house because they like living there. However, in this improbable situation of them selling the house, they would become rich)

The Third Conditional

This involves the past perfect + would have + past participle
This is used when a person is imagining a different past, an imaginary situation that did not happen in the past.

  • If you had studied, you would have passed the exam.

(I imagine that if you had done this in the past, the result would have been different)

  • If I hadn’t been sick, I would have gone to your party.

(I’m imagining the situation of NOT being sick in the past… something that I cannot change now)

In general:

Zero conditional refers to facts.
First conditional and Second conditional refer to the present or future. However second conditional sentences suggest it is less probable or imaginary.
Third conditional refers to the past.

There are MORE than these 4 types of conditional sentences though these are the ones that are used the most. We will look at other types in future lessons.

Summary Chart

Conditional Sentences in English - If clauses

 https://youtu.be/z_L80p8WbLM

https://www.woodwardenglish.com/lesson/conditional-sentences-if-clauses-introduction/

If Conditioal

Kamis, 17 Desember 2020

Bahasa Ibu

Saat aku duduk di bangku SD, aku tinggal dengan ibu tua, ibu dari ibuku, karena aku lahir dan tinggal beberapa tahun di Ciruas Serang Banten, aku mahir berkomunikasi dengan bahasa jawa Ciruas, bahasa ibu ibuku, saat kelas 5 SD sampai SMP aku tinggal dengan bapak dan ibuku di Cikupa Tangerang Banten yang mayoritas penduduknya saat itu berbahasa ibu bahasa sunda.

Aku melanjutkan SMA ku di Bima kampung halaman bapak ku, tentu saja aku menguasai bahasa ibu bapak ku, bahasa bima. Hingga kini aku mahir kedua bahasa ibu bapak dan ibuku. Saat aku berada dengan keluarga ibuku aku berkomunikasi dengan bahasa ibu ibuku, sedangkan saat aku bersama keluarga bapakku aku menggunakan bahasa ibu bapak ku. Aku bersyukur dilahirkan dari bapak dan ibu yang berbeda suku, adat, dan bahasa. Dan jika ditanya apa bahasa ibu ku, aku akan menjawab, bahasa ibuku, bahasa mbojo dan bahasa jawa Serang.

 

#Des10AISEIWritingChalange

 

 

 

 

 


Selasa, 08 Desember 2020

NKRI Harga Mati


 

Di grup komunitas yang saya tergabung didalamnya seorang teman membagikan sebuah gambar. Karena kami berada di komunitas guru Bahasa Inggris, tentu saja tulisan ber bebahasa Inggris menjadi fokus kami. Dari gambar tangkap layar tersebut tertulis “NKRI Dead Rice”. Awalnya beberapa teman mengoreksi kata tersebut untuk kata Dead Rice,  dan mengoreksinya menjadi Death Price ada juga Price Die, Price Death, No Bargain, Now and forever dan Fixed Price.

Apakah secara English Grammatical atau tata bahasa Bahasa Inggris pembetulan teman – teman diatas benar?, Menurut kamus online dan buku kamus bilingual, Harga Mati dalam Bahasa Inggris adalah Death Price dan menurut Google Translate adalah Fixed Price, ternyata terbukti benar. Merasa belum klik dengan hasil terjemahan tersebut, saya tak kuasa menahan jemari ini untuk tidak berselancar di browser dan sedikit membuka buku. Dalam Bahasa Inggris bukan menerjemahkan kata perkata, tapi saat menerjemahkan kita juga melihat konteks kalimat, dan memparaprasekan kata atau kalimat yang dimaksud, apalagi jika menerjemahkan sebuah frase, kita harus benar – benar mencari padanan yang paling mendekati. Saya pun log in ke  buletin Quora, tempat saya mencari alternatif jawaban dari banyak hal sebagai pembanding yang saya ketahui.

Dan ada beberapa jawaban yang saya dapat dari bulletin Quora, saya memilih jawaban yang ditulis oleh Naufaldi Anindya Pratama, ia mengutip terjemahan dari seorang dosen berkebangsaan Indonesia di Australia yang cukup terkenal, yaitu Ariel Heryanto yang juga banyak mempublikasikan buku-buku mengenai Indonesia. Menurut Ariel, NKRI Harga Mati adalah Non-negotiable Sovereignty of the Unitary State of the Republic of Indonesia (Non-negotiable Sovereignty of NKRI). Selain itu, Naufaldi juga mengutip, Unitary State of the Republic of Indonesia is Undisputed (NKRI is Undisputed) terjemahan ini dicetuskan oleh Salmah Wangdu pada tahun 2017 ketika ada foto viral mengenai kesalahan terjemahan NKRI Harga Mati yaitu “NKRI Price die”.

Menurut anda manakah yang lebih elegan digunakan untuk menerjemahkan NKRI Harga Mati? 

Meskipun begitu yang terpenting semangat NKRI Harga Mati tidak hanya dalam tulisan, bukan?.

 

 

#Dec8AISEIWritingChallange

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 05 Desember 2020

Sambal Kulit Melinjo


 

Hujan selalu membawa berkah, salah satunya adalah berkah bagi isi rumah dan kulkas. Hahaha… Karena hujan saya tidak bisa pergi kemana – mana, jadi deh gosokan (pakaian yang harus disetrika) yang menumpuk itupun rapih dilemari.

Berkah juga buat si kulit melinjo yang sudah 2 hari belum tejamah untuk dimasak. Hari ini akhirnya dimasak juga. Jadi bersih juga kan kulkasnya. Karena request dari si sulung, saya pun mengolah si kulit melinjo ini menjadi sambal. Gampang loh buatnya.

Oh iya, sebelum kita lanjut ke cara membuat sambal melinjo. Bunda  tahu tidak ternyata kulit melinjo punya banyak manfaat bagi kesehatan loh, Berdasarkan artikel kesehatan yang saya baca manfaat kulit melinjo di dapat karena beberapa kandungan didalamya antara lain: kalsium, fosfor, beta karoten, likopen, mangan, potassium, zink, dan magnesium.

Karena itu ada banyak manfaat kesehatan bagi tubuh jika kita mengkonsumsi kulit melinjo secara wajar. Berikut ini manfaat kulit melinjo yang saya rangkum dari beberapa artikel kesehatan:

1.       Menjaga kesehatan otak

2.      Sebagai anti mikroba

3.      Mengatasi tekanan darah tinggi

4.      Mengatasi anemia

5.      Melancarkan pencernaan

6.      Menjaga kesehatan mata

7.      Membantu pertumbuhan anak

8.     Dsb, lebih lanjut dapat dibaca di https://parenting.orami.co.id/magazine/manfaat-melinjo-untuk-kesehatan/ atau https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2698416/intip-segudang-manfaat-kulit-melinjo

 

Setelah tahu manfaatnya bunda gak ragu lagi kan untuk mengolah kulit melinjo sebagai menu dirumah. Yuuk lanjut gimana sih resep keluarga saya mengolah kulit melinjo jadi sambal.

Bahan – bahan yang diperlukan:

1.       Kulit melinjo 1 kantong kresek dari abang sayur

2.      Bawang merah 5 siung

3.      Bawang putih 2 siung

4.      Cabe merah (sesuai selera)

5.      Cabe hijau potong iris sedikit kasar

6.      Terasi (saya pakai terasi ABC, setengah aja/sesuai selera)

7.      Garam

8.     Gula putih/merah

9.      Air asam jawa sedikit (bisa pakai bisa tidak, sesuai selera aja)

Cara membuat:

1.       Cuci bersih kulit melinjo

2.      Iris halus kulit melinjo seperti mengiris bawang

3.      Tumbuk kasar bawang merah, bawang putih, cabe, tambahkan terasi

4.      Tumis bumbu yang sudah ditumbuk kasar, jika sudah layu masukan kulit melinjo yang sudah diiris, cabe hijau iris, aduk sebentar tambahkan air masak sampai air berkurang jika dirasa belum matang atau kulit melinjo masih terasa kaku tambahkan air lagi, masak sampai kulit melinjo terasa layu atau matang, tambahkan garam, sedikit air asam, gula, koreksi rasa. Taraa… sambel kulit melinjopun siap disajikan. Untuk variasi, bisa ditambahkan teri asin gore ng.

 

Selamat mencoba!

 

 

 

#Day6AISEIWritingChallange

 

 

 

 

 

 

 

Nenek atau orang dengan HP nya?


 

Melalui grup WA kelas, pak guru Haikal membuka materi pelajaran dengan membagikan sebuah gambar melalui tautan aplikasi Padlet.



 

Pak Guru: “Anak – anak coba kalian amati gambar yang bapak bagi tadi ”.

       “Dari gambar tersebut, silahkan kalian beri komentar, apa yang kalian lihat dari gambar tersebut dengan cara mengklik     tanda + di pojok bawah buku virtual kalian.”

 

Pak guru menamakan padlet sebagai papan tulis virtual nya, sedangkan untuk siswanya pak guru menyebutnya buku tulis virtual.

 

Pak Guru: “Silahkan siapa yang mau memberi komentarnya lebih dulu.”

Ade: “Orang lagi pada nonton pertandingan bola, pak.”

Nancy: “Nenek – nenek di antara orang – orang muda.”

Abdul: “Netizen yang pada sibuk selfie pak.”

 

Pak Guru: “Bagus. Ayo siapa lagi yang mau kasih komentar? Coba kalian perhatikan nenek yang berdiri paling depan, bedakan dengan orang disekitarnya.

Siti: “Nenek gak bawa HP, sedangkan orang disekitarnya pada foto – foto pake HP, pak.”

Ujang: “Orang – orang yang sedang menikmati sebuah momen dan merekamnya dengan HP mereka.”

Mona: “Menurut saya diantara orang – orang itu, Cuma nenek yang sedang menikmati sebuah momen yang sedang terjadi.”

Pak Guru: “Kenapa begitu? Kenapa cuman nenek?

Siti: “Karena nenek gak sibuk dengan HP nya, pak”.

Ujang: “Tapi kan klo kita rekam atau foto nanti kita save, terus nanti bisa kita nikmatin momen itu. Iya kan, Pak?.”

Pak Guru: “Semuanya bisa benar. Tapi coba kita tanya teman – teman yang lain. Dari gambar diatas, siapakah yang sedang menikmati momen yang dilihatnya, apakah nenek atau orang – orang dengan HP nya?. Beri alasannya juga ya.



#Day6AISEIWritingChallange

 

 

 

 

 

 

 


Syair dari kata unik Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memeliki kata-kata unik dan menarik yang jarang di gunakan dalam percakapan sehari-hari. Jika di rangkai dengan kata yang u...